Di Tepi Danau Galilea
Di Kana, mujizat pertama-Nya terjadi,
Air menjadi anggur, penuh sukacita dan harmoni.
Permulaan kasih yang nyata,
Membuka jalan bagi karya ilahi yang tak terkira.
Di padang luas, ribuan orang kelaparan,
Hanya lima roti dan dua ikan diberikan.
Namun, tangan-Nya yang penuh kuasa,
Melipatgandakan berkat, memenuhi jiwa-jiwa yang percaya.
Di kolam Siloam, buta kembali melihat terang,
Di Betsaida, lumpuh melompat dengan riang.
Penyakit lenyap, derita tersingkir,
Karya-Nya membangkitkan harapan yang tak tergoyahkan.
Ketika badai menerpa, gelombang naik menjulang,
Di atas Danau Galilea, ketakutan datang menyerang.
Namun, Yesus berseru, "Diamlah!", dengan tegas,
Laut pun tenang, murid-murid takjub akan kuasa-Nya yang luas.
Namun, mujizat terbesar ada di Golgota,
Di kayu salib, cinta-Nya terukir indah selamanya.
Kematian dikalahkan, dosa dihapuskan,
Hidup abadi dianugerahkan kepada mereka yang percaya.
Hari ini, mujizat-Nya tetap hidup di dunia,
Mengalir dalam hati yang bertobat dan setia.
Kasih-Nya menyinari jalan kita menuju keselamatan,
Tanpa memandang bangsa, semua menerima undangan.
Di tepi Danau Galilea, kisah ini bermula,
Dan hingga kini, kasih-Nya terus mengalir,
Membawa damai, harapan, dan berkat berlimpah,
Bagi dunia yang mendambakan tangan Tuhan yang penuh cinta.
Maret 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar